Kamis, 04 Oktober 2012

Susunan Pengurus BPH Sultra 2011-2016

Pembina         :
1.      Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara
2.      Kakanwil Kemenag Prov. Sultra
3.      Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Prov. Sultra

Penasehat       :
1.      Ketua Paruman Walaka PHDI Prov. Sultra
2.      Ketua PHDI Prov. Sultra
3.      I Gede Wayan Mulia, BA
4.      I Made Karyawan, S.Ag
5.      I Nengah Suarya, SH

Pengurus:
Ketua
: I Nengah Suliarta, SE, M.Fil.H
Waka
: Drs. I Nengah Negara, M.Hum, M.Fil.H
Sekretaris
: Kadek Yogiarta, S.Pd.H
Wakil Sekretris
: I Made Artaya, SP, M.Si
Bendahara
: Dra. Ni Ketut Somonasih, M.Fil.H

Bidang Materi            :
1.            Drs. I Wayan Gede Suara S, M.Pd. (Koord)
2.            I Made Dwinanto, S.Ag, M.Fil.H
3.            Ir. Made Guyasa, MP
4.            Gede Putra Adnyana, S.Pd
5.            I Putu Sudiarta, S.Ag
6.            Gusti Ayu, K. Arni, S
7.            Wayan Sukardiasa
8.            Gusti Kadek Sumertadana, A.Md

Bidang Penyiaran     :
1.            I Nengah Sumendra, S.Ag. M.Fil.H (Koord)
2.            Ketut Oko, A.Md
3.            DR. I Gusti Ayu K. Sutaryati, M.Si
4.            Drs. I Nyoman Narpa, M.Fil.H
5.            Ni Ketut Suterji, SE
6.            Putu Sudarmika, S.Pd
7.            Made Karyawan, SE, MM
8.            Made Juliarto, S.Pd.H
9.            Kadek Sutomo, M.Kes
10.        Ni Luh Suarti

Bidang Pendidikan dan Pelatiha
1.            Drs. I Made Sukada, M.Pd (Koord)
2.            Dra. Ida Ayu Putu Ardani
3.            Ny Ni Ketut Pastini Sudarmika, S.Sn
4.            Wayan Sudiarta, SE
5.            Ni Nengah Sudarmi, SE
6.            Wayan Sumardiasa, SE
7.            Made Yudiana, S.Pd
8.            Ni Nyoman Suparni Karyawan

Mutiara Weda Tentang Pendidikan Anak

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia belajar bertindak adil. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta kasih dalam kehidupan. (Dorothy Nolte (dalam Titib, 2006:v)

Untaian Sloka Weda Guna Terbentuknya Anak Suputra
Yetheyam prtiwi mahi bhutanam garbhamadadhe
Eva te dhiriyatam garbho anu suntum savite (Atharwaweda VI.17.1)
Terjemahannya:
Seperti halnya bumi yang luas ini mengandung semua mahkluk, demikian juga wahai istriku, engkau menjadi hamil dan dari kehamilan dapat lahir seorang putra seperti Sang Surya penuh dengan sinar cahaya.

Om Agni vayucandrasuryah, parayascittayo yuyam dewanam parayascittayah stha brahmano vo nathakama upadhavami yasyah papi laksmi stanustamasya apahat swaha.
Terjemahannya:
Om Agni, Vayu, Candra dan Surya engkau adalah mensucikan segala prayascita, seperti mebersihkan segala kotoran. Mensucikan benda menjadi suci kembali. Dengan keinginan mencari Tuhan Yang Maha Esa, saya memohon perlindungan para Dewata supaya istriku bila pernah mendapat kekayaan dengan tidak melalui jalan dharma yang mengakibatkan dosa mohon dimaafkan.

Om Suryo no divastu vato antariksat agnirah parthivebyah (Rg Weda X.158.1)
Terjemahannya:
Oh Dewa Surya anugerahkanlah dari surgaloka dan lindungilah jabang bayi yang masih dalam kandungan ini, demikian juga semoga dewa Bayu memberikan anugerah dari antraiksa dan dari bumi Dewa Agni melindungi.

Ko asi katoma asi kayasi ko na-masi
Yasya te namamamahi yam twa some nantitrpama
Bhur bhuwah swah supraja-h prajabhih syam
Suviro viraih suposah posaih (Yayur Weda VII.29)
Terjemahannya:
Pada hari ini kami memberikan nama kepadamu dan juga memuaskan kamu dengan air susu ibu. Untuk itu wahai anakku siapkah sebenarnya kamu? dan milik siapa? dari manakah kamu? siapakah namamu? Tuhan Yang Maha Esa memberikan prana kebahagiaan dan telah menjauhkan kita dari segala duka. Semoga kami mendapatkan keuturunan yang baik, dari semua unsur golongan manusia dan para katriya memperoleh keturunan yang sehat dan perwira yang berkembang dengan makanan yang sehat penuh gizi.

Sa vahnih putrah pitroh pawitravan punatidhiro bhuvani mayaya (Rg Weda. I. 160.3)
Terjemahannya:
Putra dari orang tua yang mulia, saleh, gagah berani, dan berseri-seri bagaikan sanghyang Agni membersihkan (menyucikan dunia ini dengan perbuatan-perbuatannya yang mulia

Yato virah karmanyah sudakso yuktagrava jayate dewakamah (Rg Weda III.4.9)
Terjemahannya:
Tuhan Yang Maha Esa, semoga kami memperoleh seorang putra yang gagah berani giat, cerdas, yang mampu memeras soma dan percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa lahir pada kami.
Pisangarupah subharo vayodhah srusti viro jayate dewakamah (Rg Weda II.4.9)
Terjemahannya:
Tuhan Yang Maha Esa, semoga kami memproleh seorang putra yang berkulit kuning langsat yang berpotongan bagus yang panjang umur, yang berani dan bajik.

Te sunah swaspasah sudamasah (Rg Weda I.159.3)
Terjemahannya:
Putra-putra ini amat giat bekerja dan memiliki kekuatan-kekuatan yang mengagumkan

Sadhum putram hiranyayam (Atharwa Weda XX.129.5)
Terjemahannya:
Semoga kami memperoleh seorang putra yang mulia dan makmur

Ehy-asanam a tista asma bhawantu te tanuh (Atharwa Weda II.13.4)
Terjemahannya:
Wahai putra kemarilah dan berdirilah di atas batu ini, semoga tubuhmu kuat seperti sebongkah batu.

Yad bhadrasya purusasya putra bhawati dadhrshih (Atharwaweda XX.128.3)
Terjemahannya:
Dengan sesunguhnya anak laki-laki seorang ayah yang mat terkenal (termasyur) menjadi mulia

Anuvratah pituh putro, mata bhawantu sammanah (Atharwaweda III.30.2)
Terjemahannya:
Hendaknya anak laki-laki patuh epada ayahnya dan menyenangkan hati ibunya

Garbhair hamairjatakrama,
Caudamahuncini bandhanah
Baicikam garbhairkam caino,
Dwi janama pamujiate (Manawadharmasastra  II. 27)
Terjemahannya:
Dengan membakar bau-bauan harum pada waktu kehamilan, dengan upacara pitakarma (bayi waktu lahir), upacara cauda (gunting rambut pertama) dan upacara mahunji bandhaa (upacara memberikan kalung/ gelang) maka kekotoran yang didapat dari orang tua akan hilang.

Prangnabhi wardhanatpumso
Jatakarma widhyate
Mantrawatpracanam casya
Hirayamandhu sarpisam (Manawadharmasastra. II.29)
Terjemahannya:
Sebelum talipusar dipotong upacara jatakarma (upacara baru lahir) harus dilakukan untuk bayi laki-laki dan sementara mantra-mantra suci sedang diucapkan itu harus diberi makan madu dan mentega dengan sendok emas

Namadeyam dacamyam
tu dwadacyan wasya karayet
punye tithau nyhurte wa
naksatre wa gunanwite ((Manawadharmasastra. II.29)
Terjemahannya:
Kemudian hendaknya orang tua melakukan upacara namadheya pada umur 10 atau 12 tahun hari setelah kelahirannya, atau pada waktu suatu hari baik dalam kedudukan muhurta dibawah bintang-bintang yang membawa kebahagiaan.

Caturthe masi kartwya
Cicorniskramanam grhat
Sasthe nnapracanam masi
Yadwetam manggalam kule (Manawadharmasastra.II.34)

Terjemahannya:
Pada waktu bulan yang keempat harus dilakukan upacara Niskramana bagi bayi itu dan pada waktu umur enam bulan dilakukan upacara annaprasana dan wajib pula melakukan upacara kesucian yang biasa dilakukan dalam upacara itu

Garbhastame bde kurwita
brahmanasyopanayam grbhadekadace rajno
garbttu dwadace wicah (Manawadharmasastra II.36)
Terjemahannya:
Pada tahun kedelapan setelah pembuahan seseorang harus melakukan upacara upanayana bagi golongan brahmana pada tahun kesebelas bagi ksatriaya sedangkan bagi bagi waisiaya pada tahun kedua belas.

Brahma warcasakam asya
Karyam wiprasya pancame
Rajno balarthinah sasthe
Waicasye harthino’ stame (Manawadharmasastra, II 37)
Terjemahannya:
Namun yang ingin ahli Weda harus melakukannya pada tahun ke 5, kesatria yang ingin perkasa memulai pada tahun ke enam, dan wesia yang berhasil dilakukan pada tahun kedelapn setelah pembuahan.

Asodacad brahmanasya
sawitri natiwartate
adwawimcat ksetra bandosa
Catur wimcate wicah (Manawadharmasastra, II.38)
Terjemahannya:
Waktu untuk melakukan upacara sawitri bagi seorang Brahmana tidak boleh lebih sampai genap umurnya 16 tahun setelah lahir, bagi ksatriya tidak boleh lebih dari umurnya 24 tahun

Atta urdhwam trayo pyete
Yatha kalama samskrtah
Sawitri patita wratya
Bhawantyarya wirgatah (Manawadharmasastra.II.39)
Terjemahannya:
Kalau sampai pada masa-masa itu orang belum meperoleh sakramen menurut waktunya bagi ketiga golongan ini, mereka dogolongkan Wrtaya serta dikeluarkan dari upacara sawitri dan tidak layak sebagai arya

Dasa puuvaanparaan vamsyan
Aatmanam caikavim sakam
Braahmiputrah sukrita krnmoca
Yedenasah pitr rna (Manawa Dharmasastra III.37)
Terjemahannya:
Seorang anak yang lahir dari Brahma Vivaha, jika ia melakukan perbuatan baik akan dapat membebaskan dosa-dosa sepuluh tingkat leluhurnya dan sepuluh tingkat keturunannya dan ia sendiri yang kedua puluh satu.

Tuhun gawayanin suta nutanekeneka gawaya nika sang yayah juga Ika muhara harsaning yayah agong ri gati nika taman salah gawe, Samangkana kumawhruhig matanaya riawak ika sagunaya tan hilang, Tekap ni gatining suta ngulahaken gawaya guna saka wruhing yayah (Putra Sesana, 3)
Terjemahannya:
Segala kegiatan si anak harus mencontoh bakat baik orang tua itulah yang menyebabkan senangnya orang tua, karena prilakunya sangat tepat. Demikianlah orang tua harus patut mendidik anak agar kepandaiannya dapat di wariskan sehinga tidak punah. Oleh si anaklah yang patut menerima segala pekerjaan dan kepandaian orang tua.
Tingkahning suta cakasaneka kadi raja-tanaya ri sedeng limang tahun Saptaning warsa waraahulun sapuluhing tahun ika-taha wuruhken ring aksara yapwan sodacawara tulya wara mitra tinaha-taha denta midanaYan wus putra suputra tinghalana salahika wuruken ing nayengga (Nitisastra IV.20)
Terjemahannya:
Anak yang berumur lima tahun hendaknya diperlakuakan seperti anak raja, Jika sudah berumur tujuh tahun dilatih agar suka menurut, Jika sudah sepuluh tahun dipelajari membaca. Jika sudah enam belas tahun, diperlakukan sebagai sahabat, kalau kita mau menunjukan kesalahan harus dengan hati-hati sekali. Jika ia sendiri sudah beranak, diamati saja tingkah lakunya, kalau hendak memberi pelajaran kepadanya cukup dengan gerakan dan alamat.

Nihan  singgah anak, ikang carananing anatha, tumulung kadang kalaran doning saktinya, danakena donya antuknya angarjana, pangenening daridra donyan pasuruhan, ikang mangkana, yatikanak ngaranya.(Saracamuccaya 228)

Terjemashannya:
Yang dianggap anak adalah orang yang menjadi pelindung orang yang memerlukan pertolongan serta untuk menolong kaum kerabat yang tertimpa kesengsaraan, untuk disedekahkan tujuannya, akan segala hasil usahanya, gunanya ia memasak, meyediakan makanan untuk orang-orang miskin, orang yang demikian itu putra sejati namanya.

Nyang waneh ikang wwang pinaracrayana kadangnya, kadi lwir sang hyng indra, an pinakakahuripaning sarwabhawa mwang kadi lwiring kayu, an pinakakahuripaning manuk, mangkana ta ya, pinakakahuripaning katumbanya, ikang wwang mangkana ya tikanak ngaranya.(Saracamuccaya 229)
Terjemahannya:
Demikian pula yang dijadikan tempat berlindung oleh, kaum kerabatnya sebagai hal Dewa Indra, Dewa hujan yang merupakan sumber kehidupan sekalian mahkluk dan bagaikan pohon kayu rindang yang meupakan kehidupan burung, demikialah ia itu merupakan kehidupan orang-orang seisi rumahnya, orang yang demikian keadaanya itulah sejati namanya.

Ikang anak ngarannya, matrtpitining bapa gina wenya, Kunang ikang bapa, sakwehning sukhaning anak ginawenya, Apan tan hana tinengetning bapa, cariranira towi, winehakenira ta ya (Saracamusccaya 243)

Terjemahannya:
Yang disebut anak, patutnya membuat agar si bapa puas hatinya, sedangkan si bapa sebanyak-bnyaknya kesenangan si anak dikerjakan olehnya, sebab tidak aada yang dikikirka sibapa, badannya sekalipun akan direlakannya.

Mangkana ikang ibu, arata jugasihnira manak ya, apan wenang tan wenang, saguna, nirguna, daridra, sugih, ikang awak, kapwa rinaksanira, iningunira ika, tan hana ta pwa kadi sira, ring masiha mangingwana (Saracamusccaya 244
Terjemahannya:
Demikianlah si ibu, rata benar cinta kasihnya kepada anak-anaknya, sebab baik cakap ataupun tidak cakap, berkbajikan ataupun tidak, miskin atau kaya raya anak-anaknya itu semua dijaga baik-baik olehnya, dan diasuhnya mereka itu tidak ada yang melebihi kecintaannya beliau dalam hal mengasihi dan mengasuh anak-anaknya

            Te putra ye pitur bhaktah
            Sa pit yastu posakah
            Tam mitram yatra wiswasah
            Sa bharya yatra nirwtih (Canakya Nitisastra. II,4)
Terjemahannya:
Yang disebut putra adalah mereka yang bhakti kepada Bapak. Yang disebut Bapak adalah dia yang menaggung memelihara anak-anaknya. Yang disebut teman adalah dia yang memiliki rasa percaya dan bisa dipercaya dan seorang istri adalah dia yang selalu memberiakn kebahagian


            Putras ca vividhaih silair
            Niyojyah satatam budhih
            Niti-jnah sila sampanna
            Bhawanti kula pujitah (Canakya Nitisatra II.10)
Terjemahannya:
Orang bijaksana hendaknya mengajarkan putranya tatasusila, pengetahuan Nitisastra dan ilmu pengetahuan suci lainnya, sebab seorang putra yang mahir dalam pengetahuan Nitisatra dan pengetahuan suci lainnya akan meyebabkan keluarga terpuji.

            Mata satru pita bairi
            Yena balo na pathitah
            Na sobhate sabha madhye
            Hamsa madye bako yatha (Canakya Nitisatra II.10)
Terjemahannya:
Seorang Bapak dan ibu yang tidak memberikan pelajaran kesuciannya kepada anaknya, mereka berdua adalah musuh dari anak tersebut. Anak tersebut tidak aka nada artinya di masyarakat, bagaikan seekor bangau di tengah-tengah kumpulan burung angsa.

Lananad bahavo dosas
Tadanad bahavo gunah
Tasmat putram ca sisyam
Tadeyam na tu lalayet (Canakya Nitisastra II,12)
Terjemahannya:

Anak yang dididik dengan memanjakan akan menjadi durhaka dan jahat Sedangkan dengan memberikan hukuman-hukuman ia akan menjadi baik. Oleh karena itu, didiklah putra-putri dan murid-murid anda dengan cara memberikan hukuman-hukuman dan tidak dengan memanjakan.

Abhyadad dharyate vidya
Kulum silena dharyate
Gunena jnayate tvvaryah
Kopo netrena gamyate (Canakya Nitisatra III.8)
Terjemahannya:
Ilmu pengetahuan itu dipelihara dengan mempraktekannya, Kemuliaan keluarga dipelihara dengan tingkah laku yang baik Orang terhormat dapat dilihat dari sifat-sifat luhurnya dan kalau marah dapat dilihat dari matanya

Ekanapi suvksena
Puspitena suganddhita
Wasistem tadvanam sarwam
Suputrena kulam yatha (Canakya Nitisastra III,12)
Terjemahannya:
Seluruh hutan menjadi wangi hanya karena ada sebuah pohon dengan bunga indah dan harum semerbak. Begitu juga kalau didalam keluarga terhadap seorang anak yang suputra.

Ekena suska-vrksena
Dahyamanena vahnina
Dahyate tadvanam sarwam
kuputrena kulam yatha (Canakya Nitisastra III,15)
Terjemahannya:
Seluruh hutan terbakar hangus hanya karena satu pohon kering yang terbakar. Begitulah seorang anak yang kuputra mengahncurkan dan meberikan abib bagi kleuarganya

Ekenapi suputrena
Vidya yuktena sadhuna
Ahladitam kulam sarwam
Yatha candrena sarwari (Canakya Nitisastra III,15)
Terjemahannya:
Sebagaiman bulan menerangi malam hari dengan cahayanya yang terang menyejukkan, begitulah seorang anak suputra yang berpengetahuan rohani, insaf akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra ini menyebabkan seluruh keluarganya selalu dalam kebahagiaan.

Kim jatair bahubhih putraih
soka santapakaih
varamekah kulalambi
yatra visramyate kulam (Canakya Nitisastra III,15)
Terjemahannya:
Apa gunanya melahirkan anak terlalu banyak kalau mereka hanya mengakibatkan kesengsaraan dan selalu memberikan kedukaan. Walaupunseorang anak tetapi berkepribadian utama dan membentu keluarga satu anak yang meringankan keluarga inilah paling baik.

Lalayet panca varsani
Dasa varsani tadayet
Prapte tu sodase varse
Putram mitravadacaret (Canakya Nitisastra III,18)
Terjemahannya:
Asuhlah putra dengan cara memanjakannya sampai berumur lima tahun, memberikan hukuman-hukuman selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah menginjak umur enam belas tahun didiklah ia dengan cara berteman

Kupasataswai paramam sarapi
Sarah sated wai parama pi yajnah
Yajnahsatad wai paramapi putra

Kalingganya, hana pawekang magawe sumur satus alah ika dening magawe.Telaga seratus, alah ika palanya  dening wwang magaweakan yajna sapisan. Atyanta luwih ing gumawe aken yajna. Kunangikang wwang  wwang mayajna ping satus alah ika  phalanya dening kang wwang maanak tunggal, yang anak wisesa. Kalingganya ikang manak aneka tan lwih phalanya.
Terjemahannya:
Membuat telag untuk umu lebih baik daripada menggali sertus sumur, melakukan yajna sekali lebih utama dari membuat seratus telaga, empunyai anak yang suputra lebih utama daripada melakukan seratus yajna.

Sanghyang Chandra Tranggana  pinaka dipa memadangi ri kalaning wengi Sanghyang Surya sedeng prabhasa, Maka dipa memandangi bhumi mandala Widhya sastra suddharma dipanikanang tribhuana sumene prabhasa, Yan ning putra suputra sadhu gunawan, Memandangi kula wandhu wandhawa (Niti Sastra IV)
Terjemahannya;
Bulan dan bintang bersinar, sebagi pelita, Menerangi dikala malam.Matahari terbit, sebagi pelita menerangi seluruh wilayah bumi, Ilmu pengetahuan, sastra yangutama, sebagai pelita menerangi ketiga dunia dengan sempurna, kalau dikalangan putra (anak),anak yang utama sebagai pelita menerangi seluruh keluarga.


Disalin oleh: Kadek Yogiarta,
Dharma Duta PHDI Prov. Sultra 2011

Kenakalan Remaja

Kenakalan Remaja:
Tinjauan Singkat Ajaran Hindu Mengantisipasinya

Kadek Yogiarta**
Badan Penyiaran Hindu Prov. Sultra
      Latar Belakang
          Fase kehidupan manusia yang hidup setelah lahir di dunia yaitu dari bayi, kemudian balita/ anak-anak, remaja, dewasa dan tua, siapapun di dunia ini yang lahir sebagai manusia akan melalui proses itu. Inilah hukum hidup, yang senantiasa mengalami perubahan, karena sesungguhnya bagi yang hidup perubahan itu adalah sesuatu yang kekal. Dunia bayi adalah dunia kasih sayang, sentuhan dan belaian kasih dari ibu dan bapak adalah kebahagiaan tak ternilai baginya, masa anak-anak merupakan dunia bermain. Setelah itu manusia masuk masa remaja, dimana banyak orang mengatakan adalah masa-masa yang indah dan menyenangkan. Dalam fase ini seseorang sudah mampu saling mengisi, saling melengkapi dan saling mengenal sesama serta sudah dapat merasakan getaran cinta dengan lawan jenisnya. Keindahan masa remaja itu tentunya sangat beralasan, karena masa remaja jika diibaratkan sebuah bunga adalah masa tumbuh, mekar dan harum mewanginya. Masa remaja sesungguhnya adalah masa mempersiapkan diri untuk masa depan. Disamping masa-masa indah itu sesungguhnya masa remaja adalah masa yang penuh dengan tantangan yang berat, masa yang labil dengan tekanan battin yang kuat, mendorong melakukan sesuatu yang menjadi keinginannya, salah melangkah maka akan menderita dan menyesal selamanya serta masa depan jadi taruhannya. Pada tulisan singkat ini penulis akan menguraikan tentang remaja di tengah maraknya kasus kenakalan remaja yang terjadi dalam dekade belakangan ini. Kasus kenakalan remaja tentunya sangat meresahkan para guru dan orang tua. Apabila hal ini terus terjadi dan dibiarkan, yakin dan percaya bahwa generasi mandatang sebagai penerus Bangsa akan mengalami kehancuran. Tulisan singkat ini kami ketengahkan sebagai pesan moral bagi para remaja khususnya remaja Hindu, sebagai antisipasi mencegah terjadinya kenakalan remaja, khususnya dalam pandangan Hindu guna terwujudnya anak yang suputra.

Remaja dan Kenakalan Remaja
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa, para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan ini pun sering dilakukan melalui metoda coba- coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering  menimbulkan ke kwatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orang tuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja. Sifat remaja adalah selalu ingin tahu, ingin mencoba segala sesuatu yang belum diketahuinya. Normal, sebagai bagian dari pertumbuhan fisik dan jiwanya, dalam kelompok gaul seusianya, dari ingin tahu, lalu mencoba, meniru perilaku orang dewasa. Kelompok-kelompok ini seringkali terbentuk dalam ketidak pahaman tentang nilai-nilai dan norma-norma keagamaan. Pencarian indentitas dan jati diri yang sering tanpa arah, membentuk pribadi-pribadi yang goyah serta jiwa yang labil. Kondisi ini kemudian mendorong mereka menuju penyimpangan perilaku yang bertentangan dengan aturan­-aturan moral di masyarakat. Antara lain terjadi penyimpangan perilaku seksual, seperti kumpul kebo, seks bebas, homo seks, pelecehan seksual. Kenakalan remaja (juvenile delinquency) adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak dan dewasa. Pengertian kenakalan remaja adalah semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat dan semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Dengan demikian berdasarkan urian tersebut sangatlah jelas bahwa kenakalan remaja itu adalah sebuah perbuatan yang melangagar peraturan, atau uu diawali oleh keinginan untuk mencoba-coba, sehingga bila berhasil akan terus melakukannya. Bentuk-bentuk yang sederhana dilakukan seperti yang sering kita lihat diantaranya, membolos sekolah, kebut-kebutan di jalanan, penyalahgunaan narkotika, perilaku seksual pranikah, perkelahian antar pelajar dan lain sebagainya.

Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Remaja
            Telah dijelaskan di atas bahwa kenakalan remaja adalah sustu perbuatan yang melanggar aturan yang dilakukannya secara individu atau berkelompok yang diawali dengan sebuah keisengan atau ajang coba-coba, sehingga merugikan dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Tentunya pelanggaran yang dilakukannya tidak serta merta diakibatkan oleh dirinya sendiri, akan tetapi juga disebabkan oleh faktor diseklilingnya, baik dari pergaulan, keluarga mapun lingkungan sekitarnya. Ada beberapa penyebab terjadinya kenakalan remaja itu di antaranya, kami kelompokkan yaitu dari luar dan dari dalam:
a.       Dari dalam, yaitu kenakalan yang disebabkan oleh dorongan kuat disebabkan oleh dirinya secara pribadi, yang meliputi:
  1. Reaksi frustasi diri, yaitu perasaan meyesali diri akibat tekanan mental yang tidak dapat dipikul oleh remaja, seperti tidak naik kelas, nilainya anjlok, di marahi guru, dan perasaan terlalu menghakimi diri akibat terjadinya sesuatu, sehingga menyebabkan remaja melakukan kenakalan ini, yang merupakan reaksi dalam dirinya.
  2. Adanya masalah yang dipendam, dimana ada sebagian watak atau karakter para remaja yang memendam masalahnya, ia tidak mau bercerita atau berbagi kepada orang tua, ataupun orang terdekat tentang masalah yang dihadapi. Sehingga adanya masalah terpendem ini, menyebabkan seorang remaja mencoba-coba suatu hal sebagai bentuk pelampiasan masalahnya.
  3. Adanya keinginan dari para remaja untuk mengetahui dan mencoba hal-hal yang diperoleh informasinya dari apapun, seperti kebut-kebutan, prilaku sek diluar nikah, dan lain sebagainya.
  4. Rendahnya sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang disebabkan kurangnya pemahaman agama yang dimiliki.
  5. Merasa diri remaja, (mabuk yowana) tidak ada yang menyalahkan untuk melakukan sebuah ajang coba-coba.

b.      Dari Luar diri, yaitu kenakalan remaja yang disebabkan oleh pengaruh dari luar diri, seprti keluarga, serta lingkungan disekitarnya, yang meliputi:
1.    Kurangnya kasih sayang orang tua/keluarga, dimana kemungkinan kesibukan para orang tua, kurang dapat memberikan perhatian kepada anaknya, sehingga anak merasa kurang disayangi, disamping itu bisa disebabkan oleh banyaknya anak yang dimiliki oleh keluarga. Berbagai kasus-kasus yang diberitakan dalam media sering kita menyaksikan bahwa kesibukan orang tua, berakibat fatal terhadap perkembangan anaknya.
2.    Penanaman dasar-dasar agama yang sangat kurang, hal ini disebabkan peran orang tua yang kurang memahami agama dengan baik. Tradisi dan jawaban gugon tuwon oleh orang tua, tidak bisa diterima oleh si anak. Rendahnya pengetahuan orang tua tentang ajaran agama dan praktek agama tentunya tidak menjadi teladan atau figure bagi si remaja. Sesungguhnya orang tua adalah sebagai pasilitaor dan mediator pendidikan pertama bagi anak, baik, jasmani maupun rohani.
3.  Kurangnya pengawasan dari orang tua, dimana orang tua terlalu percaya penuh dengan anak, sehingga kehilangan control, yang menyebabkan anak dapat berbuat senaknya, hal ini dimanfaatkan baik oleh remaja untuk melakukan niatnya, karena merasa orang tuanya memberikan kesempatan.
4.      Dampak negatif dari perkembangan teknologi modern, hal ini paling kuat berpengaruh, dijaman zaman sekarang ini adalah femanfaatan iptek yang modern. Bila kita salah memanfaatnyakannya maka akan menjerumuskan pelakuknya.
5.  Tidak adanya media penyalur bakat/hobi, dimana tidak ada sarana khusus atau kegiatan yang menampung bakat para remaja, baik di masyarakat atau pun di sekolahnya.
6.   Kondisi keluarga yang broken home, dimana keretakan keluarga atau kurang harmonisnya hubungan orang tua, suami dan istri berimplikasi juga kepada anak dengan kurangnya perhatian dan kasih saying kedua orang tuanya.
7.   Pengaruh kawan sepermainan. Hal ini tentunya sangatlah benar adanya, apalagi melihat kondisi remaja, dimana kebanyak mereka ikut-ikutan dengan temannya, kalau tidak ikut maka akan dikucilkan dari pergaulan, dikatakan tidak trendy, tidak macho, dan banyak lagi sebutannya. Dengan adanya ancaman dari temannya maka para remaja larut dalam peergaulan yang kurang sehat.

Ajaran Hindu Dalam Mengantisipasi Kenakalan Remaja
            Sebagaimana diuraikan di atas, banyak hal yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja itu, sehingga memang hal ini meski dimapahami oleh para remaja, cara mengantisipasi terjadinya kenakalan remaja, dapat dimulai dari kesadaran diri remaja, dalam hal ini penulis meyampaikan beberapa tips kepada para remaja Hindu dalam mengantisipasi bentuk-bentuk kenakalan remaja itu. Perilaku kenakalan tersebut dalam Hindu dikenal dengan perbuatan adharma, (kebatilan) asuba karma/jahat, di dalam dalam ajaran Bhagawadgita disebut perilaku Asuri Sampad atau perilaku keraksaan. Dikatakan sebagai perilaku keraksaan, karena raksasa adalah mahkluk yang senantiasa merusak keharmonisan. Apakah para remaja mau para remaja dikatakan raksasa? Kalau tidak hindarkan diri dari perilaku tersebut. Anak yang baik dalam ajaran Hindu yang senantiasa paham akan kewajibannya disebut anak yang suputra, anak yang memiliki karakter mulia yang dapat mengantarkan diri dan keluarganya pada sebuah kebahagiaan. Cerminan sosok anak suputra, dalam susastra Hindu Ramayan ditampilkan oleh putra-putra Raja Destarata, yaitu Rama, Laksmana, Bharata dan Saturgna, meraka adalah putra-putra yang suputra, senatiasa sadar akan kewajibannya dan terpenting adalah berbhakti kepada catur guru. Dalam cerita Mahabharata Panca Pandawa adalah manusia-manusia sadhu, apalagi sosok Yudistira yang diyakini oleh semua orang kebijaksanaanya dan karakternya yang mulia. Anak yang suputra adalah dambaan setiap orang tua, demikian halnya dalam kelurga Hindu, kehadiran seorang anak adalah cerminan keluarganya. Hal ini tersirat dalam susatra Hindu, Canakya Nitisastra III.14 disebutkan:
Ekenapin survrksena
Puspitena sugandhita
Vasistam tadwanam sarwam
Suputrena kulam yatha
Terjemahannya:
Seluruh hutan menjadi wangi hanya karena ada sebuah pohon dengan bunga indah dan harum semerbak. Begitu juga halnya kalau di dalam keluarga terhadap seorang anak yang suputra.

            Lebih jauh tentang itu dalam sloka 16 juga disebutkan:

            Ekenapi suputrena
            Widya yuktena sadhuna
            Ahladitam kulam sarwam
            Yatha candrena sarwari
Terjemahannya:
Sebagaimana bulan menerangi malam matahari dengan cahanya yang terang menyejukkan, begitulah anak yang suputra yang berpengetahuan rohani, insyaf akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra ini meyebabkan seluruh keluarganya selalu dalam kebahagiaan..

            Berdasarkan ucap sastra di atas, sangat jelas bahwa anak suputra adalah anak yang selalu berbhakti, yang menjadi kebanggaan orang tua, dan senantiasa dapat memeberikan kebahagian dalam keluarga. Tegas juga dalam kitab slokantara seorang anak yang suputra mengalahkan seratus kali yajna. Untuk mewujudkan anak suputra tersebut, berikut ini penulis sajikan tips bagi remaja/khususnya remaja pasraman dalam mengantisi atau membentengi diri dari bentuk kenakalan remaja itu:

a.  Abyasa, yaitu membiasakan diri.
Abyasa berasal dari bahasa sanskrta yaitu membiasakan diri. Kebiasaan apa yang perlu dilakukan? Lakukan kebiasan-kebiasaan yang baik, merasa malulah jika melakukan perbuatan tidak baik. Kebiasaan-kebiasaan yang baik, mulai dari berpikir yang baik-baik (manacika parisudha), berkata yang baik dengan siapapun (wacika Parisudha), dan lakukan perbuatan yang baik-baik saja (kayika parisudha). Biasakan dalam diri melakukan dharma sadhana, pengucapan om swastyastu, param santih dalam pergaulan, senantiasa berusaha mengingat nama Tuhan dalam setiap saat dan kesempatan, melaksanakan sembahyang Tri sandya setiap hari, hal ini bertujuan untuk mohon tuntunan dari beliau Tuhan Yang Maha Esa sebagaimanan pesan kitab Brhadnyaka 1.3.28:
Om Asato Ma sad gamaya,
Tamaso Majyotir gamaya,
Mrtyor Mamrtam gamaya,
Terjemahannya:
Ya Tuhan Yang Maha Kasih bimbinglah kami dari ketidak benaran menuju kebenaran, bimbinglah kami dari kegelapan menuju alam terang. bimbinglah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi

Berdasarkan Weda tersebut memberikan sebuah intruksi untuk kita senantiasa selalu mendekatkan diri dengan Tuhan, mohon bimbingan dan tuntunan dari beliau, untuk senantiasa menghindarkan diri dari ketidak benaran, senantiasa dibimbing di jalan yang benar, dengan demikian pasti para remaja dapat terhindar dari kenakalan remaja tersebut. Disamping itu biasakan membaca buku suci/buku agama bila memiliki, biasakan juga mendengarkan dharma wacana, dan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pasraman kilat semacam ini.

b.            Melaksanakan ajaran Guru Bhakti
Melaksanakan ajaran guru bhakti adalah kewajiban dan cerminan para sisya yang sujana/bijaksana. Guru bhakti adalah etika mendasar dari seorang sisya, tanamkan ajaran guru bhakti ini dalam diri. Bhakti kepada Tuhan (guru swadyaya), bhakti kepada Orang tua (guru rupaka), bhakti kepada guru disekolah, (guru pengajian) dan bhakti kepada pemerintah (Guru wisesa), kalau seorang remaja mampu mewujudkan dan mengembangkan konsep bhakti ini maka, ia akan terhindar dari bentuk kenakalan remaja itu. Para remaja bias mengambil contoh dalam sastra kita bahwa Tuhan dalam wujudnya Sri Rama dan Sri Kresna selalu mengembangakan ajaran guru bhakti ini, hal itu adalah sebuah contoh bahwa siapapun di dunia ini harus senantiasa mengembangkan bhaktinya, bhakti adalah pondasi dasar pengamalan ajaran agama Hindu.

c.             Bergaul yang sehat
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orang tuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai banyak teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam perbergaulan. Jangan bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah. Tentang kriteria sahabat baik yaitu selalu setia kawan, dapat memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati, menjaga barang-barang apabila kita lengah, memberikan perlindungan apabila dalam bahaya, tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan membantu pada saat kesusahan, mari mulai sekarang lakukan pergaulan yang sehat, dan jangan larut dengan pergaulan yang kurang sehat.

c.       Berusaha mengendalikan diri
Berusaha mengendalikan diri adalah bentuk pengendalian diri dari para remaja terhadap kuatnya keinginan yang berlebihan atau tidak fositif dalam dirinya. Keinginan atau nafsu itu bila di turuti akan menimbulakn penderitaan, ia ibarat sebuah nyala api, apabila disiram dengan minyak maka api itu akan besar nyalanya, akan tetapi bila disiram dengan air ia akan mati. Bagi para remaja, keinginan yang berlebihan hendaknya dihindari, sadari diri bahwa dalam masa remaja hendaknya bukan untuk mengikuti nafsu akan tetapi berusaha mengekang nafsu itu.

d.      Menfaatkan teknologi secara bijak
Dijaman sekarang bagi remaja memanfaatkan teknologi bukan ha lasing, biasanya para remaja paling cepat dan larut dalam memanfaatkan teknologi ini. Hendaknya remaja dapat menmanfaatkan teknologi secara bijak dan mengambil hikmah fostitifnya, berbagai kasus di media terjadi disebabkan kesalahan dalam memanfaatkan teknologi itu. Teknologi itu iibarat pisau bermata dua, disatu sisi berfungsi untuk sebuah kepentingan yang menggunakan, dan disatu sisi bila salah memanfaatkan akan melkukai si pengguna. Contoh berbagai kasus terjadi, seorang remaja nekad mencabuli anak dibawah umur lantaran selesai menonton suatu adegan di internet, ada juga berita remaja hilang tidak kunjung datang ke rumahnya karena berkenalan dengan temannya di face book, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kejahatan yang diakibatkan oleh teknologi dewasa ini. Pesan kepada remaja Hindu, mari manfaatkan teknologi dengan sebaik-biknya, bila tidak maka diakatakan gaptek, akan tetapi perlu dicerna/disaring untuk diambil yang fositifnya, apabila itu dilakukan niscaya bentuk-bentuk kenakalan remaja itu pasti dapat dihindarkan.
Dengan demikian untuk mengeleminir perilaku kenakalan remaja, hendaknya para remaja Hindu secara bersama-sama merenungkan pesan sastra Saracamuccaya 27 Karenanya perilaku seseorang, hendaklah digunakan sebaik-baiknya masa muda, selagi badan sedang kuatnya, hendaklah digunakan untuk usaha menuntut dharma, artha dan ilimu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan anak muda, contohnya ialah seperti ilalang yang telah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya itu tidak tajam lagi.

III. Kesimpulan
            Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja adalah suatu bentuk perbuatan yang melanggar aturan atau hukum, yang dapat menyebabkan kerugian bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat disekitarnya, dimana perbuatan itu dilakukan. Bentuk-bentuknya bermacam-macam, mulai dari yang dilakukan secara individu atau kelompok, yang awalnya adalah hanya ajang coba-coba, atau iseng dengan mengikuti tred atau anak gaul. Kebiasan buruk itu seperti, membolos, berkelahi, sek diluar nikah, menggunakan narkoba, dan sebagainya.
            Bentuk kenakalan remaja itu disebabkan oleh dua factor yaitu dari dalam dan dari luar. Hal yang dapat dilakukan untuk terhindar dari kenakalan remaja adalah, dengan Abyasa, Dharma Cara, Satyam wada, selalu membiasakan kebajikan dalam diri, mengembakan konsep ajaran guru bhakti, bergaul secara sehat, dapat mengendalikan diri dan memanfaatkan teknologi secara bijak.